Wednesday, December 21, 2011

KERETA = Pembesar Jiwaku


Empat tahun yang lalu saya lulus SMA dan memilih untuk kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Depok. Kebetulan rumah saya di Bogor, untuk sampai ke kampus bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Angkutan umum yang paling mudah adalah transportasi kereta api. 

Sempat yang memikirkan bagaimana rasanya naik angkutan tersebut. Kereta api waktu itu mempunyai dua jenis yaitu kelas ekonomi dan ekspres. Kelas ekspres tidak berhenti disemua stasiun termasuk stasiun tempat kampus  saya berada. Oleh sebab itu saya pasti menggunakan kelas ekonomi. Kelas ekonomi terkenal dengan layanan yang buruk dan kualitas kereta yang tidak nyaman. Gerbong kereta yang tidak terurus dan penumpang yang bejubel melebihi kapasitas angkutan kereta tersebut. Namun apadaya, saya paksakan untuk naik kelas ekonomi. 

Selain kereta yang kurang baik, pelayanan kereta api diperparah dengan adanya sejumlah gangguan yang menjadi langganan disetiap harinya. Entah itu gangguan sinyal, gangguan patograf atau kerusakan rangkaian sehingga kereta banyak yang batal berangkat dan berakibat pada penumpukan penumpang di satsiun. Pertama kali mendapati situasi seperti ini, saya tentu kaget. Namun berjalannya waktu saya mulai terbiasa. Terbiasa untuk desak-desakan, berlari-larian mengejar kereta. Semua itu karena paksaan, tidak ada jalan lain.

Kereta merupakan transportasi umum yang paling banyak digunakan masyarakat. Bayangkan saja saat ini diperkirakan 400.000 orang memakai kereta api. Adanya hambatan kereta tentu saja menghambat aktivitas sejumlah orang. Inilah yang mengakibatkan masyarakat banyak mengeluhkan pelayanan masyarakat yang buruk karena merugikan mereka juga. Saya sering melihat orang yang mengomel, marah karena kereta mengalami gangguan sehingga terjadi keributan. Tentu saja penumpang yang lain melakukan hal yang sama, ngedumel dalam hati. Tapi saya tersadarkan bahwa situasi tersebut dapat menjadi latihan untuk membesarkan hati.

Dengan kejadian seperti itu, kejadian yang tidak nyaman menyadarkan saya bahwa tidak seluruh rangkaian kehidupan ini akan sesuai dengan kenyamanan yang kita inginkan. Ada beberapa bagian kisah yang tidak sesuai dengan keinginan kita yang sebenarnya itulah yang melatih jiwa ini kian kuat. Di kereta, saya mempuyai motto, "bawa enjoy aja". Tersadar juga apalah gunanya kita marah, mengomel disaat kereta mengalami gangguan? Tidak akan menyelesaikan masalah, kereta tetap saja gangguan. Tersadar juga bahwa tidak mudah KAI beserta jajarannya mengatur 400.000 penumpangnya. Seolah mereka belum mampu, oleh sebab itu doakan pula PT KAI dan jajarannya agar menjadi mampu mengelola kereta dengan baik. 

Kereta telah menjadi jalan, salah satu petunjuk Tuhan yang ingin melatih kita untuk sabar, untuk mengerti arti sebuah pengorbanan. Bukankah rasa kesal itu akah hilang jika kita melihat keceriaan anak-anak kita ketika tiba dirumah? 

Tanpa terasa hati dan jiwa ini kian besar seiring kesemrawutan Kereta Api. Tak perlu marah, emosi, yang kita perlukan adalah kerjasama yang baik untuk membangun kereta api agar lebih baik.

Semoga bermanfaat :)

No comments:

Post a Comment